AI Melesat Cepat, Apakah Dunia Teknologi Mengulang Dot Com Bubble ?

08 Januari 2026


Kalian sadar nggak sih, akhir-akhir ini harga RAM terasa makin mahal? Salah satu pemicunya datang dari sisi industri: permintaan chip DRAM lagi naik karena banyak perusahaan teknologi membangun server dan data center untuk AI. Ketika DRAM lebih banyak “diserap” untuk kebutuhan skala besar, pasokan untuk pasar consumer ikut mengetat, dan akhirnya harga RAM di pasaran pun terdorong naik.

hal ini sering dikaitkan dengan fenomena AI bubble, fenomena ini merujuk pada kemungkinan terbentuknya gelembung ekonomi di sektor teknologi AI, mirip dengan dot-com bubble di akhir 1990-an. Gelembung terjadi ketika valuasi perusahaan atau aset naik sangat cepat melampaui nilai fundamentalnya, dan akhirnya bisa “pecah” dengan penurunan nilai drastis. Saat ini, investor dan pelaku industri memperdebatkan apakah ledakan minat dan investasi di AI merupakan awal revolusi teknologi berkelanjutan atau hanya euforia sementara yang berisiko menjadi gelembung

AI Mulai Merambah Berbagai Sektor

Tidak dapat dipungkiri, teknologi AI sudah meresap ke berbagai sektor industri dan ekonomi. Perusahaan di bidang kesehatan, keuangan, manufaktur, hingga ritel mulai mengadopsi AI untuk meningkatkan efisiensi dan inovasi. Sebuah survei terhadap 800 eksekutif menunjukkan sekitar 75% responden merasakan peningkatan produktivitas dan pengambilan keputusan berkat generative AI . Contohnya, bank investasi seperti JPMorgan melaporkan penggunaan AI membantu meningkatkan penjualan hingga 20% dengan mempercepat analisis data bagi advisornya . Temuan ini menegaskan bahwa AI sudah memberikan nilai nyata di berbagai organisasi, walau banyak perusahaan masih berjuang mendapatkan return on investment penuh dari implementasi A

Lonjakan Investasi dan Ekspektasi yang dibawa

Tren AI mendorong lonjakan investasi besar-besaran. Laporan Stanford yang dikutip HBR mencatat investasi swasta global di AI mencapai rekor $252,3 miliar pada 2024, dengan pendanaan khusus AI generatif melesat menjadi $33,9 miliar yang nilainya lebih dari delapan kali lipat level 2022 . Perusahaan raksasa saling berlomba berinvestasi: Nvidia berencana menanam hingga $100 miliar di OpenAI, yang dibalas komitmen OpenAI membeli jutaan chip Nvidia, kesepakatan simbiosis yang mengingatkan pada praktik akhir 1990-an ketika perusahaan teknologi saling mengerek valuasi tanpa nilai riil . Bahkan konsorsium investor dan venture capital kini membanjiri startup AI dengan dana segar, didorong ketakutan ketinggalan gelombang AI berikutnya.

Ekspektasi terhadap AI pun melambung tinggi. Lembaga keuangan terkemuka memproyeksikan potensi ekonomi AI yang luar biasa. Morgan Stanley menyebut peluang AI senilai $6 triliun , dan McKinsey memperkirakan AI generatif dapat menambah $2,6–4,4 triliun pada output tahunan ekonomi global . Media dan konsultan ramai-ramai mendorong narasi bahwa setiap bisnis harus mengadopsi AI agar tidak tertinggal zaman . Selama puncak hype di 2023–2024, beberapa perusahaan bahkan menambahkan label “AI” pada nama mereka demi mendongkrak harga saham . Hal-hal ini mencerminkan euforia pasar yang mengingatkan pada masa dot-com boom, ketika ekspektasi sering kali melebihi realitas kinerja.

Sejumlah indikator mengisyaratkan potensi bubble di tengah boom AI saat ini. Valuasi saham teknologi AI meroket tajam dalam waktu singkat. Menurut kepala ekonom Apollo Global Management, valuasi 10 perusahaan berkapitalisasi terbesar di indeks S&P 500 saat ini bahkan lebih tinggi (berdasarkan rasio harga terhadap laba) daripada puncak era 1990-an . Hal ini berarti harga saham perusahaan-perusahaan terkait AI sudah terbang jauh melampaui kinerja laba mereka seperti situasi klasik gelembung aset. Para raksasa teknologi seperti Nvidia, Microsoft, Google, hingga Meta menggelontorkan dana miliaran dolar ke AI, namun hingga kini pendapatan yang dihasilkan masih tertinggal jauh dibanding biaya investasi infrastruktur AI yang “astronomis” . Contohnya, perusahaan AI seperti OpenAI dilaporkan menghabiskan dana besar untuk komputasi awan dan chip, sementara pendapatan komersialnya belum sebanding. Jika tren ini berlanjut tanpa realisasi keuntungan sesuai harapan, kekhawatiran akan gelembung kian beralasan.

Apakah Saat Ini Sudah Terjadi AI Bubble?

Para ahli belum mencapai kesepakatan apakah kita benar-benar berada dalam gelembung AI saat ini. Sinyal waspada datang dari berbagai penjuru. Bank sentral seperti Bank of England dan lembaga IMF telah memperingatkan risiko gelembung AI yang bila pecah dapat mengguncang ekonomi . Tokoh finansial Jamie Dimon dan pionir AI Jerry Kaplan – yang mengaku telah menyaksikan empat gelembung teknologi – sama-sama khawatir melihat begitu besarnya uang yang membanjiri sektor AI dibanding era dot-com . Mereka mengingatkan bahwa jika gelembung ini pecah, dampaknya bisa meluas melampaui industri AI saja dan menyeret perekonomian secara umum .

Namun, tidak sedikit pula yang berpandangan lebih optimistis. CEO Nvidia Jensen Huang, misalnya, menolak anggapan adanya bubble dan menegaskan permintaan terhadap AI berakar pada kebutuhan nyata: dari pemrosesan data, iklan, hingga penciptaan aplikasi baru . Ia berargumen bahwa penetrasi AI baru memasuki tahap awal dan masih akan tumbuh eksponensial, sehingga valuasi tinggi mencerminkan potensi jangka panjang tersebut, bukan gelembung yang akan pecah dalam waktu dekat. Para pendukung pandangan ini menilai boom AI sekarang lebih mirip dengan revolusi teknologi (seperti internet boom) ketimbang mania spekulatif tanpa dasar.

Referensi
• Harvard Business Review – Is AI a Boom or a Bubble? (2025)
• Stanford AI Index Report (2024)
• The Economist Impact – Beyond the AI bubble (2025)
• Knowledge at Wharton – Decoding the AI Bubble (2025)

Secret Link